Hari itu kampus terasa seperti panggung besar yang dipenuhi suara suara sambutan, suara aturan, suara janji tentang masa depan yang gemilang. Orientasi mahasiswa baru tingkat universitas dimulai. Kami duduk berderet, menatap layar dan podium, dijejali informasi tentang fasilitas kampus, program kesiswaan, dan jargon-jargon indah tentang intelektualitas. Kepalaku berat. Bukan karena tak penting, tapi karena tubuhku lapar dan mata ini lebih dulu menyerah pada kantuk. Aku mencatat seperlunya, menahan menguap, menunggu jam bergerak.
Satu hari berlalu. Selesai. Aku mengira badai telah lewat.
Ternyata aku keliru.
Orientasi fakultas datang seperti kabar buruk yang menepuk pundak tanpa permisi. Fakultas Teknik yang kelak akan kujadikan rumah hari itu berubah wajah. Belum apa-apa, aku dan beberapa kawan sudah diperintah jalan jongkok dari gerbang teknik menuju dekanat. Aspal terasa dingin, lutut bergetar, dan harga diri seperti dipaksa merunduk bersama tubuh. Aku bertanya dalam hati: di mana letak pendidikannya?
Para panitia yang menyebut diri mereka senior lebih sering memaki daripada membimbing. Suara mereka keras, marah seperti kebiasaan, seolah kewenangan itu lahir dari teriakan. Tiga hari kami hidup dalam ritme perintah yang tak masuk akal. Ini bukan orientasi; ini penaklukan.
Jujur, sepanjang SD hingga SMA, tak pernah kutemui acara semiskin makna seperti ini.
Kepalaku gundul plontos, bukan oleh pilihan, tapi oleh aturan yang entah untuk apa. Di tanganku tergenggam tabung gambar, di leher tergantung ID card dari karton, rapuh seperti martabat yang sedang diuji. Aku menentang, beberapa kali. Kata-kata kupilih, nada kujaga. Tapi yang datang justru hukuman. Seolah bertanya adalah dosa. Seolah berpikir adalah pelanggaran.
Ada momen ketika batas itu dilanggar sentuhan yang tak seharusnya, dorongan yang tak beralasan. Aku menggigit bibir, menelan amarah.
Awas kalian, kataku dalam hati, aku tak lupa.
Bukan dendam yang kupelihara, melainkan ingatan
agar suatu hari aku tahu apa yang tak boleh kuwariskan.
Waktu, bagaimanapun, selalu punya belas kasihan. Tiga hari itu akhirnya tamat. Seragam kembali normal, suara kembali manusiawi. Aku melangkah ke hari-hari awal kuliah dengan dada yang masih penuh sisa sesak, tapi juga tekad yang mengeras. Jika ilmu adalah cahaya, maka aku akan mencarinya tanpa meniru gelap yang baru saja kulewati.
Aku menulis satu kalimat pendek di ujung hari:
“Aku datang untuk belajar, bukan untuk diinjak.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar