Kuliah akhirnya benar-benar dimulai. Ruang kelas menjadi saksi langkah-langkah awal kami sebagai mahasiswa teknik—penuh angka, garis, rumus, dan jadwal yang mulai terasa menuntut. Namun di sela kesibukan itu, kampus masih menyisakan hiruk-pikuk lain: para kakak tingkat yang datang membawa tawaran, mimpi versi mereka, dan selebaran organisasi yang berwarna-warni.
Satu per satu organisasi diperkenalkan.
Ada kesenian, dengan janji ekspresi dan panggung.
Ada BEM, dengan wacana kepemimpinan dan kebijakan.
Ada pencinta alam, dengan cerita gunung, rimba, dan keberanian.
Masing-masing ketua berbicara lantang tentang kelebihan organisasinya, tentang kebersamaan, tentang masa depan. Aku mendengarkan, mengangguk seperlunya, namun hatiku belum benar-benar tersentuh. Sejujurnya, aku datang hanya untuk tahu—bukan untuk memilih.
Hingga kemudian, satu kelompok maju ke depan.
Tak terlalu ramai. Tak terlalu memaksa. Nada bicaranya tenang, tapi terarah. Awalnya aku nyaris tak peduli. Namun ketika program kerja mereka mulai dijelaskan, telingaku mendadak awas, dan hatiku perlahan duduk tegak.
Pelatihan kewirausahaan.
Mentoring.
Dan yang paling membuatku berhenti menghela napas: pembekalan ruhiyah.
Semua dikemas sederhana, tak berlebihan, namun terasa utuh. Bukan hanya tentang menjadi mahasiswa yang cakap secara akademik, tapi juga manusia yang tahu batas—yang ingat arah. Ada ruhiyah di sana. Ada pengingat tentang siapa aku, dan untuk apa aku belajar sejauh ini. Sebagai seorang muslim, aku merasa itu seperti jangkar di tengah lautan sibuk yang bernama teknik.
Aku mendengarkan dengan antusias. Untuk pertama kalinya sejak orientasi yang melelahkan itu, aku merasa tidak sedang dipaksa, melainkan diajak.
Tanganku terangkat.
Aku bertanya tentang benefit—tentang informasi beasiswa, tentang peluang pengembangan diri. Mereka menjawab dengan jujur, lugas, tanpa janji berlebihan. Dan di dalam hatiku, ada satu kata kecil yang berloncatan: ya.
Di sampingku, beberapa kawan berbisik,
“Teknik itu sibuk, bro. Ngapain ikut organisasi?”
“Fokus kuliah aja, nanti keteteran.”
Aku mendengar. Aku mengerti. Tapi kali ini, suaraku di dalam kepala terdengar lebih jelas daripada bisikan di kanan-kiri. Aku meminta formulir. Kertas itu terasa ringan di tangan, tapi berat di pertimbangan. Aku tidak mengisinya hari itu. Tidak. Aku ingin pulang dengan tenang, menimbang dengan jujur, dan bertanya pada hatiku sendiri.
Malamnya, di kamar sederhana yang mulai kupanggil rumah, aku duduk diam. Kuingat perjalanan panjang ke Bengkulu. Kuingat doa orang tua. Kuingat luka-luka ospek yang masih hangat. Aku bertanya pada diriku: ingin jadi mahasiswa seperti apa aku kelak?
Jawabannya datang pelan, tapi pasti.
Aku ingin tumbuh.
Bukan hanya pintar, tapi juga sadar.
Bukan hanya kuat, tapi juga taat.
Keesokan harinya, keputusan itu kubulatkan.
Mostaneer.
Moslem Station of Engineer.
Sebuah tempat singgah, sekaligus titik berangkat. Tempat di mana ilmu bertemu iman, dan teknik tak melupakan Tuhan.
Aku menuliskan satu kata di awal langkahku bersama mereka—kata yang dulu selalu diajarkan ibu sebelum aku pergi jauh:
Bismillah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar