Jumat, 23 Januari 2026

Kampus Biru

Pagi di Bengkulu terasa berbeda. Udara laut menyusup pelan ke paru-paru, membawa aroma asing yang perlahan kupelajari untuk dicintai. Di hadapanku, hamparan bangunan bercat biru berdiri tenang, Kampus Biru Universitas Bengkulu (UNIB), tempat mimpi yang kemarin masih kutulis dalam doa, hari ini menjelma nyata di bawah kakiku.

Aku melangkah masuk dengan jantung yang berdegup tak teratur. Bukan karena takut, tapi karena terlalu banyak rasa yang bertemu sekaligus: harap, gugup, bahagia, dan rindu.

Sekitar seribu lima ratus calon mahasiswa berkumpul. Wajah-wajah baru, cerita-cerita lama yang ditinggalkan. Ada yang datang dari kabupaten-kabupaten di Bengkulu, ada yang menyeberang provinsi dari Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Lampung, Jambi dan aku, yang menempuh jarak paling panjang, dari Sumatera Utara. Di tengah keramaian itu, aku sadar, aku tak lagi sendirian. Kami semua adalah perantau, dengan versi rindu yang berbeda-beda.

Proses daftar ulang berjalan pelan, tapi penuh makna. Setiap berkas yang kuserahkan seperti selembar janji pada diri sendiri: aku akan bertahan. Antrian panjang tak terasa melelahkan, justru menjadi ruang bagi tawa-tawa kecil dan percakapan canggung yang perlahan mencair. Di sanalah aku belajar, bahwa pertemuan adalah awal dari persaudaraan.

Usai daftar ulang, kami calon mahasiswa Fakultas Teknik—dikumpulkan di depan gedung fakultas. Matahari siang memantul di dinding, dan angin seolah ikut mendengar cerita kami. Kami bersilaturahmi, saling mengenal, bertukar nama dan daerah asal, seakan sedang merajut benang-benang masa depan.

Dibahaslah tentang ospek fakultas yang akan dilaksanakan beberapa bulan ke depan. Tentang perkenalan dunia kampus, tentang disiplin, tentang kebersamaan yang akan ditempa. Aku tersenyum kecil.

Ah, senangnya…

Ada getar bahagia yang sulit kusembunyikan—rasa ingin tahu, rasa siap, rasa ingin tumbuh.

Namun, di sela-sela senyum itu, rindu menyelinap diam-diam. Bayangan kampung halaman tiba-tiba hadir: jalan kecil, suara sore, dan wajah orang tua yang mungkin sedang bertanya dalam doa, “Apakah anakku baik-baik saja?” Aku menghela napas, menenangkan hati. Tidak apa-apa rindu. Rindu adalah bukti bahwa aku berasal dari tempat yang penuh cinta.

Hari itu kututup dengan banyak tanda tanya dan satu keyakinan. Tentang bagaimana serunya ospek universitas, bagaimana keras dan hangatnya ospek fakultas, bagaimana persahabatan akan lahir dari peluh dan tawa.

Semua masih menunggu giliran untuk diceritakan.

Dan aku menulis di sudut hati:

“Perjalanan ini belum sampai puncaknya. Aku baru saja tiba di gerbang.”



Tidak ada komentar:

Posting Komentar