Minggu, 25 Januari 2026

Keindahan yang Tidak Terawat


Beberapa kawan mulai kukenal satu per satu, seolah takdir sengaja mempertemukan kami di titik yang sama. Mas Musdianto dari Mukomuko, sosok paling dewasa di antara kami, tutur katanya tenang namun sarat makna. Ridwan Sami, darah Palembang yang lama menetap di Kota Bengkulu selalu punya cara membuat suasana hidup dengan canda ringannya. Mustofa Hadi, anak Bengkulu Tengah, sederhana dan setia kawan. Budi Alkhair dari Solok, Sumatera Barat, logikanya tajam khas anak teknik. Dan Wafiq, putra asli Kota Bengkulu, yang mengenal kotanya seperti mengenal garis telapak tangannya sendiri. Kami berlima, tanpa deklarasi resmi, membentuk semacam geng, lebih tepatnya lingkaran kecil persahabatan yang lahir dari kesamaan nasib dan mimpi.

Akhir pekan itu, kami sepakat menuju satu tempat yang kerap jadi tujuan orang melepas penat. Pantai Panjang. Nama yang sederhana, namun menyimpan bentangan keindahan yang tak putus oleh mata. Menurutku, tempat itu keren sekali, sebuah objek wisata di jantung kota madya, dekat, mudah dijangkau, dan ramah bagi siapa saja. Pasirnya putih, halus seperti butiran doa yang tumpah di bibir pantai. Barisan pohon cemara berdiri rapi di tepi, seakan penjaga setia yang menahan angin dan terik. Di sekelilingnya, puluhan penginapan berjajar, menunggu tamu yang ingin singgah lebih lama dari sekadar sore.

Akses ke sana mudah, jalan alternatif yang setiap hari kulalui menuju kampus. Jalannya lebar, lengang, jauh dari hiruk kendaraan berat, sebuah kemewahan kecil di tengah rutinitas mahasiswa. Kami berangkat pukul enam pagi, saat matahari masih malu-malu menampakkan diri. Di pantai, kami menggelar tawa. Bola kami tendang di atas hamparan pasir putih, kaki telanjang berkejaran dengan ombak kecil. Lelah dan bahagia berbaur, sederhana namun utuh.

Setelahnya, kami membuat miniatur istana dari pasir. Ya, karena kami anak teknik sipil, bahkan di pantai pun, pelajaran dosen menjelma permainan. Kami mengukur, membentuk, memperkuat, seolah pasir itu beton dan mimpi kami adalah bangunan masa depan. Lalu kami mandi di laut. Bagiku, itu pengalaman yang membekas. Di kampungku, laut bukan perkara dekat; harus ditempuh berjam-jam. Lagipula, pantai laut timur Sumatera jelas berbeda dengan pantai barat, ombaknya, anginnya, aromanya, semuanya punya bahasa sendiri.

Pukul sembilan lewat tiga puluh, panas mulai menajam. Kami berganti baju dan bersiap pulang. Namun di sepanjang jalan Pantai Panjang, langkahku melambat. Aku tertegun. Luar biasa ciptaan Allah, bisikku. Tapi ada sesuatu yang mengganjal di dada, sebuah rasa yang tak bisa kuabaikan.

Mengapa pantai seindah ini tak dimaksimalkan pengelolaannya?

Sampah masih berserakan, terutama kulit kelapa yang menumpuk tanpa arah. Warung dan saung kayu berdiri tak beraturan, bukannya memperindah, malah mengganggu pandangan ke laut. Selokan buatan pemerintah tersumbat, menghembuskan bau kotor dengan air hitam pekat, kontras dengan birunya samudra. Jogging track yang mestinya menjadi jalur sehat dan rapi, kini banyak yang hancur, retak oleh waktu dan kelalaian.

Kenapa?
Bathinku terus bertanya.

Keindahan ini ada, nyata, dan murah, namun dibiarkan letih. Seolah alam telah memberi segalanya, tapi manusia lupa merawatnya. Di antara desir angin dan gemuruh ombak yang kian menjauh, aku pulang membawa lebih dari sekadar kenangan. Aku membawa pertanyaan, tentang tanggung jawab, tentang peran, dan tentang apa yang kelak ingin kami bangun, bukan hanya sebagai insinyur, tetapi sebagai manusia.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar