Sore itu Ba'da Ashar, Aku berdiri di tepi Simpang Marbau, Sebuah Simpang yang sudah terkenal di kampung kami , Aku memeluk ransel yang lebih berat oleh harap daripada pakaian. Langit tampak kelabu, seolah ikut menahan air mata yang belum sempat jatuh. Di belakangku, ada rumah yang kutinggalkan tempat suara ibu menjadi doa, dan tatapan ayah menjadi restu yang tak pernah terucap panjang, tapi terasa dalam.
Bus Putra Simas jurusan Medan - Bengkulu berhenti dengan dengus panjang, seperti napas tua yang lelah menempuh jarak. Aku melangkah naik, bukan hanya membawa tubuhku, tapi juga mimpi yang belum tahu bentuknya. Dalam diam, aku berbisik kepada Allah:
“Jika ini jalan-Mu, kuatkan kakiku. Jika ini takdir-Mu, teguhkan hatiku.”
Mesin bus mulai bergerak. Perlahan, kampung halaman mengecil di kaca jendela, seperti kenangan yang disimpan di sudut dada.
Perjalanan itu panjang. Bukan hanya jarak, tapi juga perasaan.
Sumatera Utara menyapaku dengan lampu-lampu kota yang dingin dan jalanan panjang yang seperti tak berujung. Riau menghadiahkan hutan-hutan hijau yang sunyi, tempat angin berbicara lebih lantang daripada manusia. Sumatera Barat menyuguhkan bukit-bukit yang menjulang, seolah menguji seberapa kuat tekad ini berdiri. Jambi dan Sumatera Selatan kulewati dalam senyap, kota kecil dan kota besar berganti seperti bab demi bab dalam novel yang belum selesai.
Kadang bus mogok.
Kadang mesin mengeluh.
Kadang waktu terasa seperti berhenti.
Aku turun, berdiri di pinggir jalan, menghirup udara asing, dan bertanya dalam hati:
“Apakah aku cukup kuat untuk mimpi sebesar ini?”
Namun setiap ragu datang, wajah ibu muncul di benakku. Senyum ayah kembali teringat. Dan doa-doa yang mereka selipkan di setiap sujud, seolah menjadi bensin yang tak terlihat.
Kami melewati hutan lindung, gelap dan sunyi. Jalan berliku, lampu bus membelah kabut tipis seperti pedang cahaya. Di sana, aku merasa kecil—amat kecil—di hadapan alam dan takdir. Tapi justru di situ, hatiku terasa besar, karena aku tahu aku sedang berjalan menuju sesuatu yang lebih dari sekadar diriku sendiri.
Lalu kami melewati Desa Binduriang, Rejang Lebong.
Daerah rawan, kata orang.
Daerah yang membuat doa-doa mengalir lebih deras dari biasanya.
Aku menggenggam tas, menundukkan kepala, dan berdoa tanpa suara. Bukan untuk keselamatan saja, tapi untuk keteguhan. Untuk keberanian. Untuk keyakinan bahwa mimpi ini layak diperjuangkan.
Ketika akhirnya roda bus menyentuh tanah Bengkulu Bumi Rafflesia, tanah di ujung Sumatera hatiku bergetar.
Bukan karena sampai,
tapi karena berani berangkat.
Aku tahu, perjuangan belum selesai. Bahkan mungkin baru dimulai. Tapi di titik itu, aku mengerti satu hal:
Mimpi bukan tentang seberapa jauh tujuanmu,
tapi seberapa berani kamu meninggalkan zona nyamanmu.
Aku hanyalah seorang pemuda biasa, dengan ransel sederhana dan doa orang tua di punggungku. Tapi malam itu, di Bengkulu, aku merasa menjadi seseorang yang baru
seseorang yang sedang belajar menjadi kuat,
sedang belajar menjadi dewasa,
sedang belajar setia pada cita-cita.
Dan dalam diam, aku menulis satu kalimat di hatiku:
“Aku mungkin pergi sendiri, tapi aku berangkat bersama doa.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar