Selasa, 27 Januari 2026

Kates yang Pahit

 

Kuliah sudah benar–benar dimulai.

Buku-buku tebal mulai memenuhi meja kamarku, sepatu selalu berdebu oleh pasir kampus teknik, dan tangan ini perlahan akrab dengan penggaris T serta lembaran kertas gambar yang lebih sering kusut daripada rapi. Hidup sebagai mahasiswa teknik sipil ternyata bukan sekadar soal beton dan jembatan, tapi juga soal daya tahan—fisik, pikiran, dan… entah kenapa, perasaan.

Di tengah ritme tugas dan praktikum yang mulai menggila, kami—mahasiswa baru—dikumpulkan di Aula Dekanat Teknik oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil.

“Ada apa lagi?” bisik seseorang di belakangku.

Ternyata, menurut mereka, ada satu tradisi turun-temurun: Kemah Teknik Sipil.
Tujuannya mulia, kata mereka. Untuk mempererat keluarga besar teknik sipil. Dosen datang. Alumni datang. Senior datang. Mahasiswa baru, tentu saja, wajib datang.

Tiga hari.
Jumat sampai Minggu.
Lokasi: sebuah desa di Bengkulu Utara.

Bagiku yang perantau, itu terdengar seperti petualangan. Keluar kota. Melihat alam. Menghirup udara selain debu kampus dan bau tinta printer.

Kami berangkat menggunakan tiga truk—khusus untuk mahasiswa baru. Senior dan yang lain memakai kendaraan masing-masing. Truk itu meraung pelan menembus jalanan, angin pegunungan mulai terasa dingin, dan wajah-wajah lelah di sekelilingku berubah cerah seperti anak kecil diajak piknik.

Sekitar satu jam, kami sampai.

Dan benar saja—tempatnya indah.
Perbukitan hijau, tanah basah oleh hujan, dan sebuah air terjun pendek dengan air sebening kaca. Alam seperti baru saja selesai wudhu.

Sayangnya, hujan turun tanpa kompromi. Tanah menjadi lumpur, sepatu kami berat seperti memikul dosa sendiri.

Hari pertama pembukaan berjalan wajar. Sambutan. Tawa. Foto bersama. Tak ada tanda badai akan datang selain mendung di langit.

Namun hari kedua…

Pagi itu sekitar pukul sepuluh, suasana berubah seperti wajah langit sebelum petir. Senior dan beberapa alumni yang tadinya ramah mendadak keras. Suara mereka meninggi. Tatapan mereka tajam.

“Baris!”

Kami terdiam.
Dibagi kelompok. Dimarahi. Dibentak.

Aku tersenyum kecil, mencoba menganggap ini biasa saja—eh, justru itu kesalahanku.

“Ngapo kau?!” bentak seorang senior.

Aku tak paham. Bahasa Bengkulu masih asing di telingaku. Aku hanya menunduk.

Tapi entah bagaimana, sikap diamku dianggap menantang.
“Anak ini nantang kita!” katanya pada yang lain.

Dan tiba-tiba aku menjadi pusat.
Dorongan. Tepukan keras. Pipi yang memerah.
Katanya bercanda. Tapi tubuh tak pernah bisa membedakan antara candaan dan luka.

Kawan-kawanku ingin menolong, tapi ketakutan menggantung di wajah mereka. Aku jadi bulan-bulanan. Hatiku seperti kates muda—dipaksa manis sebelum waktunya.

Pos pertama: merayap di lumpur, didorong, wajah kami seperti topeng tanah.
Pos kedua: mendaki bukit curam. Ragil—ketua angkatan kami—hampir menyerah. Tubuhnya berat, napasnya kasar. Kami mendorongnya dari belakang. Saat itu, solidaritas lahir bukan dari teori, tapi dari tangan yang saling menarik.

Pos ketiga… ya, di situlah harga diriku ikut diuji.

Sore hari kami mandi di air dingin pegunungan. Tubuh bersih, tapi hati masih belepotan.

Malamnya, acara makrab. Katanya malam keakraban. Tapi keakraban terasa seperti soal pilihan ganda yang jawabannya selalu salah. Kami dihukum push up berantai di tanah basah. Dingin merayap ke tulang. Lelah seperti memeluk seluruh tubuh.

Jam sebelas malam, kami “diizinkan” istirahat.

Hari ketiga, keajaiban terjadi.
Senior dan alumni kembali menjadi manusia ramah. Bahkan ada yang menepuk bahuku.

“Maaf ya, dek. Cuma skenario.”

Aku tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke hati.

Mereka berkata ini untuk melatih kekompakan. Untuk masa depan. Untuk dunia kerja. Untuk kehidupan.

Mungkin benar.
Tapi tetap saja, pelajaran paling keras hari itu bukan tentang teknik sipil—melainkan tentang batas antara pembinaan dan penindasan.

Kami pulang naik truk dalam gerimis. Tubuh panas, otot nyeri, mata lelah. Tapi di sepanjang jalan, aku menatap hutan-hutan hijau, kabut tipis, dan desa-desa sunyi.

Alam Bengkulu begitu ramah.
Manusianya juga, pada waktunya.
Hanya saja, beberapa pelajaran di tempat ini diberikan dengan cara yang terlalu kasar.

Kates biasanya manis.
Tapi pengalaman ini—pahitnya masih tertinggal di lidah ingatan.

Dan sejak hari itu aku mengerti:
Menjadi kuat bukan berarti harus menyakiti.
Dan kekompakan sejati… lahir dari empati, bukan intimidasi.



Minggu, 25 Januari 2026

Keindahan yang Tidak Terawat


Beberapa kawan mulai kukenal satu per satu, seolah takdir sengaja mempertemukan kami di titik yang sama. Mas Musdianto dari Mukomuko, sosok paling dewasa di antara kami, tutur katanya tenang namun sarat makna. Ridwan Sami, darah Palembang yang lama menetap di Kota Bengkulu selalu punya cara membuat suasana hidup dengan canda ringannya. Mustofa Hadi, anak Bengkulu Tengah, sederhana dan setia kawan. Budi Alkhair dari Solok, Sumatera Barat, logikanya tajam khas anak teknik. Dan Wafiq, putra asli Kota Bengkulu, yang mengenal kotanya seperti mengenal garis telapak tangannya sendiri. Kami berlima, tanpa deklarasi resmi, membentuk semacam geng, lebih tepatnya lingkaran kecil persahabatan yang lahir dari kesamaan nasib dan mimpi.

Akhir pekan itu, kami sepakat menuju satu tempat yang kerap jadi tujuan orang melepas penat. Pantai Panjang. Nama yang sederhana, namun menyimpan bentangan keindahan yang tak putus oleh mata. Menurutku, tempat itu keren sekali, sebuah objek wisata di jantung kota madya, dekat, mudah dijangkau, dan ramah bagi siapa saja. Pasirnya putih, halus seperti butiran doa yang tumpah di bibir pantai. Barisan pohon cemara berdiri rapi di tepi, seakan penjaga setia yang menahan angin dan terik. Di sekelilingnya, puluhan penginapan berjajar, menunggu tamu yang ingin singgah lebih lama dari sekadar sore.

Akses ke sana mudah, jalan alternatif yang setiap hari kulalui menuju kampus. Jalannya lebar, lengang, jauh dari hiruk kendaraan berat, sebuah kemewahan kecil di tengah rutinitas mahasiswa. Kami berangkat pukul enam pagi, saat matahari masih malu-malu menampakkan diri. Di pantai, kami menggelar tawa. Bola kami tendang di atas hamparan pasir putih, kaki telanjang berkejaran dengan ombak kecil. Lelah dan bahagia berbaur, sederhana namun utuh.

Setelahnya, kami membuat miniatur istana dari pasir. Ya, karena kami anak teknik sipil, bahkan di pantai pun, pelajaran dosen menjelma permainan. Kami mengukur, membentuk, memperkuat, seolah pasir itu beton dan mimpi kami adalah bangunan masa depan. Lalu kami mandi di laut. Bagiku, itu pengalaman yang membekas. Di kampungku, laut bukan perkara dekat; harus ditempuh berjam-jam. Lagipula, pantai laut timur Sumatera jelas berbeda dengan pantai barat, ombaknya, anginnya, aromanya, semuanya punya bahasa sendiri.

Pukul sembilan lewat tiga puluh, panas mulai menajam. Kami berganti baju dan bersiap pulang. Namun di sepanjang jalan Pantai Panjang, langkahku melambat. Aku tertegun. Luar biasa ciptaan Allah, bisikku. Tapi ada sesuatu yang mengganjal di dada, sebuah rasa yang tak bisa kuabaikan.

Mengapa pantai seindah ini tak dimaksimalkan pengelolaannya?

Sampah masih berserakan, terutama kulit kelapa yang menumpuk tanpa arah. Warung dan saung kayu berdiri tak beraturan, bukannya memperindah, malah mengganggu pandangan ke laut. Selokan buatan pemerintah tersumbat, menghembuskan bau kotor dengan air hitam pekat, kontras dengan birunya samudra. Jogging track yang mestinya menjadi jalur sehat dan rapi, kini banyak yang hancur, retak oleh waktu dan kelalaian.

Kenapa?
Bathinku terus bertanya.

Keindahan ini ada, nyata, dan murah, namun dibiarkan letih. Seolah alam telah memberi segalanya, tapi manusia lupa merawatnya. Di antara desir angin dan gemuruh ombak yang kian menjauh, aku pulang membawa lebih dari sekadar kenangan. Aku membawa pertanyaan, tentang tanggung jawab, tentang peran, dan tentang apa yang kelak ingin kami bangun, bukan hanya sebagai insinyur, tetapi sebagai manusia.



Sabtu, 24 Januari 2026

Kumpulan Itu Bernama Mostaneer


Kuliah akhirnya benar-benar dimulai. Ruang kelas menjadi saksi langkah-langkah awal kami sebagai mahasiswa teknik—penuh angka, garis, rumus, dan jadwal yang mulai terasa menuntut. Namun di sela kesibukan itu, kampus masih menyisakan hiruk-pikuk lain: para kakak tingkat yang datang membawa tawaran, mimpi versi mereka, dan selebaran organisasi yang berwarna-warni.

Satu per satu organisasi diperkenalkan.

Ada kesenian, dengan janji ekspresi dan panggung.

Ada BEM, dengan wacana kepemimpinan dan kebijakan.

Ada pencinta alam, dengan cerita gunung, rimba, dan keberanian.

Masing-masing ketua berbicara lantang tentang kelebihan organisasinya, tentang kebersamaan, tentang masa depan. Aku mendengarkan, mengangguk seperlunya, namun hatiku belum benar-benar tersentuh. Sejujurnya, aku datang hanya untuk tahu—bukan untuk memilih.

Hingga kemudian, satu kelompok maju ke depan.

Tak terlalu ramai. Tak terlalu memaksa. Nada bicaranya tenang, tapi terarah. Awalnya aku nyaris tak peduli. Namun ketika program kerja mereka mulai dijelaskan, telingaku mendadak awas, dan hatiku perlahan duduk tegak.

Pelatihan kewirausahaan.

Mentoring.

Dan yang paling membuatku berhenti menghela napas: pembekalan ruhiyah.

Semua dikemas sederhana, tak berlebihan, namun terasa utuh. Bukan hanya tentang menjadi mahasiswa yang cakap secara akademik, tapi juga manusia yang tahu batas—yang ingat arah. Ada ruhiyah di sana. Ada pengingat tentang siapa aku, dan untuk apa aku belajar sejauh ini. Sebagai seorang muslim, aku merasa itu seperti jangkar di tengah lautan sibuk yang bernama teknik.

Aku mendengarkan dengan antusias. Untuk pertama kalinya sejak orientasi yang melelahkan itu, aku merasa tidak sedang dipaksa, melainkan diajak.

Tanganku terangkat.

Aku bertanya tentang benefit—tentang informasi beasiswa, tentang peluang pengembangan diri. Mereka menjawab dengan jujur, lugas, tanpa janji berlebihan. Dan di dalam hatiku, ada satu kata kecil yang berloncatan: ya.

Di sampingku, beberapa kawan berbisik,

“Teknik itu sibuk, bro. Ngapain ikut organisasi?”

“Fokus kuliah aja, nanti keteteran.”

Aku mendengar. Aku mengerti. Tapi kali ini, suaraku di dalam kepala terdengar lebih jelas daripada bisikan di kanan-kiri. Aku meminta formulir. Kertas itu terasa ringan di tangan, tapi berat di pertimbangan. Aku tidak mengisinya hari itu. Tidak. Aku ingin pulang dengan tenang, menimbang dengan jujur, dan bertanya pada hatiku sendiri.

Malamnya, di kamar sederhana yang mulai kupanggil rumah, aku duduk diam. Kuingat perjalanan panjang ke Bengkulu. Kuingat doa orang tua. Kuingat luka-luka ospek yang masih hangat. Aku bertanya pada diriku: ingin jadi mahasiswa seperti apa aku kelak?

Jawabannya datang pelan, tapi pasti.

Aku ingin tumbuh.

Bukan hanya pintar, tapi juga sadar.

Bukan hanya kuat, tapi juga taat.

Keesokan harinya, keputusan itu kubulatkan.

Mostaneer.

Moslem Station of Engineer.

Sebuah tempat singgah, sekaligus titik berangkat. Tempat di mana ilmu bertemu iman, dan teknik tak melupakan Tuhan.

Aku menuliskan satu kata di awal langkahku bersama mereka—kata yang dulu selalu diajarkan ibu sebelum aku pergi jauh:

Bismillah.

Penindasan Berkedok Ospek

Hari itu kampus terasa seperti panggung besar yang dipenuhi suara suara sambutan, suara aturan, suara janji tentang masa depan yang gemilang. Orientasi mahasiswa baru tingkat universitas dimulai. Kami duduk berderet, menatap layar dan podium, dijejali informasi tentang fasilitas kampus, program kesiswaan, dan jargon-jargon indah tentang intelektualitas. Kepalaku berat. Bukan karena tak penting, tapi karena tubuhku lapar dan mata ini lebih dulu menyerah pada kantuk. Aku mencatat seperlunya, menahan menguap, menunggu jam bergerak.

Satu hari berlalu. Selesai. Aku mengira badai telah lewat.

Ternyata aku keliru.

Orientasi fakultas datang seperti kabar buruk yang menepuk pundak tanpa permisi. Fakultas Teknik yang kelak akan kujadikan rumah hari itu berubah wajah. Belum apa-apa, aku dan beberapa kawan sudah diperintah jalan jongkok dari gerbang teknik menuju dekanat. Aspal terasa dingin, lutut bergetar, dan harga diri seperti dipaksa merunduk bersama tubuh. Aku bertanya dalam hati: di mana letak pendidikannya?

Para panitia yang menyebut diri mereka senior lebih sering memaki daripada membimbing. Suara mereka keras, marah seperti kebiasaan, seolah kewenangan itu lahir dari teriakan. Tiga hari kami hidup dalam ritme perintah yang tak masuk akal. Ini bukan orientasi; ini penaklukan.

Jujur, sepanjang SD hingga SMA, tak pernah kutemui acara semiskin makna seperti ini.

Kepalaku gundul plontos, bukan oleh pilihan, tapi oleh aturan yang entah untuk apa. Di tanganku tergenggam tabung gambar, di leher tergantung ID card dari karton, rapuh seperti martabat yang sedang diuji. Aku menentang, beberapa kali. Kata-kata kupilih, nada kujaga. Tapi yang datang justru hukuman. Seolah bertanya adalah dosa. Seolah berpikir adalah pelanggaran.

Ada momen ketika batas itu dilanggar sentuhan yang tak seharusnya, dorongan yang tak beralasan. Aku menggigit bibir, menelan amarah.

Awas kalian, kataku dalam hati, aku tak lupa.

Bukan dendam yang kupelihara, melainkan ingatan


agar suatu hari aku tahu apa yang tak boleh kuwariskan.

Waktu, bagaimanapun, selalu punya belas kasihan. Tiga hari itu akhirnya tamat. Seragam kembali normal, suara kembali manusiawi. Aku melangkah ke hari-hari awal kuliah dengan dada yang masih penuh sisa sesak, tapi juga tekad yang mengeras. Jika ilmu adalah cahaya, maka aku akan mencarinya tanpa meniru gelap yang baru saja kulewati.

Aku menulis satu kalimat pendek di ujung hari:

“Aku datang untuk belajar, bukan untuk diinjak.”

Jumat, 23 Januari 2026

Kampus Biru

Pagi di Bengkulu terasa berbeda. Udara laut menyusup pelan ke paru-paru, membawa aroma asing yang perlahan kupelajari untuk dicintai. Di hadapanku, hamparan bangunan bercat biru berdiri tenang, Kampus Biru Universitas Bengkulu (UNIB), tempat mimpi yang kemarin masih kutulis dalam doa, hari ini menjelma nyata di bawah kakiku.

Aku melangkah masuk dengan jantung yang berdegup tak teratur. Bukan karena takut, tapi karena terlalu banyak rasa yang bertemu sekaligus: harap, gugup, bahagia, dan rindu.

Sekitar seribu lima ratus calon mahasiswa berkumpul. Wajah-wajah baru, cerita-cerita lama yang ditinggalkan. Ada yang datang dari kabupaten-kabupaten di Bengkulu, ada yang menyeberang provinsi dari Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Lampung, Jambi dan aku, yang menempuh jarak paling panjang, dari Sumatera Utara. Di tengah keramaian itu, aku sadar, aku tak lagi sendirian. Kami semua adalah perantau, dengan versi rindu yang berbeda-beda.

Proses daftar ulang berjalan pelan, tapi penuh makna. Setiap berkas yang kuserahkan seperti selembar janji pada diri sendiri: aku akan bertahan. Antrian panjang tak terasa melelahkan, justru menjadi ruang bagi tawa-tawa kecil dan percakapan canggung yang perlahan mencair. Di sanalah aku belajar, bahwa pertemuan adalah awal dari persaudaraan.

Usai daftar ulang, kami calon mahasiswa Fakultas Teknik—dikumpulkan di depan gedung fakultas. Matahari siang memantul di dinding, dan angin seolah ikut mendengar cerita kami. Kami bersilaturahmi, saling mengenal, bertukar nama dan daerah asal, seakan sedang merajut benang-benang masa depan.

Dibahaslah tentang ospek fakultas yang akan dilaksanakan beberapa bulan ke depan. Tentang perkenalan dunia kampus, tentang disiplin, tentang kebersamaan yang akan ditempa. Aku tersenyum kecil.

Ah, senangnya…

Ada getar bahagia yang sulit kusembunyikan—rasa ingin tahu, rasa siap, rasa ingin tumbuh.

Namun, di sela-sela senyum itu, rindu menyelinap diam-diam. Bayangan kampung halaman tiba-tiba hadir: jalan kecil, suara sore, dan wajah orang tua yang mungkin sedang bertanya dalam doa, “Apakah anakku baik-baik saja?” Aku menghela napas, menenangkan hati. Tidak apa-apa rindu. Rindu adalah bukti bahwa aku berasal dari tempat yang penuh cinta.

Hari itu kututup dengan banyak tanda tanya dan satu keyakinan. Tentang bagaimana serunya ospek universitas, bagaimana keras dan hangatnya ospek fakultas, bagaimana persahabatan akan lahir dari peluh dan tawa.

Semua masih menunggu giliran untuk diceritakan.

Dan aku menulis di sudut hati:

“Perjalanan ini belum sampai puncaknya. Aku baru saja tiba di gerbang.”



Kamis, 22 Januari 2026

Catatan Perjalanan — Menuju Bumi Rafflesia



Sore itu Ba'da  Ashar, Aku berdiri di tepi Simpang Marbau, Sebuah Simpang yang sudah terkenal di kampung kami , Aku memeluk ransel yang lebih berat oleh harap daripada pakaian. Langit tampak kelabu, seolah ikut menahan air mata yang belum sempat jatuh. Di belakangku, ada rumah yang kutinggalkan tempat suara ibu menjadi doa, dan tatapan ayah menjadi restu yang tak pernah terucap panjang, tapi terasa dalam.

Bus Putra Simas jurusan Medan - Bengkulu berhenti dengan dengus panjang, seperti napas tua yang lelah menempuh jarak. Aku melangkah naik, bukan hanya membawa tubuhku, tapi juga mimpi yang belum tahu bentuknya. Dalam diam, aku berbisik kepada Allah:
“Jika ini jalan-Mu, kuatkan kakiku. Jika ini takdir-Mu, teguhkan hatiku.”

Mesin bus mulai bergerak. Perlahan, kampung halaman mengecil di kaca jendela, seperti kenangan yang disimpan di sudut dada.


Perjalanan itu panjang. Bukan hanya jarak, tapi juga perasaan.

Sumatera Utara menyapaku dengan lampu-lampu kota yang dingin dan jalanan panjang yang seperti tak berujung. Riau menghadiahkan hutan-hutan hijau yang sunyi, tempat angin berbicara lebih lantang daripada manusia. Sumatera Barat menyuguhkan bukit-bukit yang menjulang, seolah menguji seberapa kuat tekad ini berdiri. Jambi dan Sumatera Selatan kulewati dalam senyap, kota kecil dan kota besar berganti seperti bab demi bab dalam novel yang belum selesai.

Kadang bus mogok.
Kadang mesin mengeluh.
Kadang waktu terasa seperti berhenti.

Aku turun, berdiri di pinggir jalan, menghirup udara asing, dan bertanya dalam hati:
“Apakah aku cukup kuat untuk mimpi sebesar ini?”

Namun setiap ragu datang, wajah ibu muncul di benakku. Senyum ayah kembali teringat. Dan doa-doa yang mereka selipkan di setiap sujud, seolah menjadi bensin yang tak terlihat.


Kami melewati hutan lindung, gelap dan sunyi. Jalan berliku, lampu bus membelah kabut tipis seperti pedang cahaya. Di sana, aku merasa kecil—amat kecil—di hadapan alam dan takdir. Tapi justru di situ, hatiku terasa besar, karena aku tahu aku sedang berjalan menuju sesuatu yang lebih dari sekadar diriku sendiri.

Lalu kami melewati Desa Binduriang, Rejang Lebong.
Daerah rawan, kata orang.
Daerah yang membuat doa-doa mengalir lebih deras dari biasanya.

Aku menggenggam tas, menundukkan kepala, dan berdoa tanpa suara. Bukan untuk keselamatan saja, tapi untuk keteguhan. Untuk keberanian. Untuk keyakinan bahwa mimpi ini layak diperjuangkan.


Ketika akhirnya roda bus menyentuh tanah Bengkulu Bumi Rafflesia, tanah di ujung Sumatera hatiku bergetar.
Bukan karena sampai,
tapi karena berani berangkat.

Aku tahu, perjuangan belum selesai. Bahkan mungkin baru dimulai. Tapi di titik itu, aku mengerti satu hal:

Mimpi bukan tentang seberapa jauh tujuanmu,
tapi seberapa berani kamu meninggalkan zona nyamanmu.

Aku hanyalah seorang pemuda biasa, dengan ransel sederhana dan doa orang tua di punggungku. Tapi malam itu, di Bengkulu, aku merasa menjadi seseorang yang baru
seseorang yang sedang belajar menjadi kuat,
sedang belajar menjadi dewasa,
sedang belajar setia pada cita-cita.

Dan dalam diam, aku menulis satu kalimat di hatiku:

“Aku mungkin pergi sendiri, tapi aku berangkat bersama doa.”