Kuliah sudah benar–benar dimulai.
Buku-buku tebal mulai memenuhi meja kamarku, sepatu selalu berdebu oleh pasir kampus teknik, dan tangan ini perlahan akrab dengan penggaris T serta lembaran kertas gambar yang lebih sering kusut daripada rapi. Hidup sebagai mahasiswa teknik sipil ternyata bukan sekadar soal beton dan jembatan, tapi juga soal daya tahan—fisik, pikiran, dan… entah kenapa, perasaan.
Di tengah ritme tugas dan praktikum yang mulai menggila, kami—mahasiswa baru—dikumpulkan di Aula Dekanat Teknik oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil.
“Ada apa lagi?” bisik seseorang di belakangku.
Ternyata, menurut mereka, ada satu tradisi turun-temurun: Kemah Teknik Sipil.
Tujuannya mulia, kata mereka. Untuk mempererat keluarga besar teknik sipil. Dosen datang. Alumni datang. Senior datang. Mahasiswa baru, tentu saja, wajib datang.
Tiga hari.
Jumat sampai Minggu.
Lokasi: sebuah desa di Bengkulu Utara.
Bagiku yang perantau, itu terdengar seperti petualangan. Keluar kota. Melihat alam. Menghirup udara selain debu kampus dan bau tinta printer.
Kami berangkat menggunakan tiga truk—khusus untuk mahasiswa baru. Senior dan yang lain memakai kendaraan masing-masing. Truk itu meraung pelan menembus jalanan, angin pegunungan mulai terasa dingin, dan wajah-wajah lelah di sekelilingku berubah cerah seperti anak kecil diajak piknik.
Sekitar satu jam, kami sampai.
Dan benar saja—tempatnya indah.
Perbukitan hijau, tanah basah oleh hujan, dan sebuah air terjun pendek dengan air sebening kaca. Alam seperti baru saja selesai wudhu.
Sayangnya, hujan turun tanpa kompromi. Tanah menjadi lumpur, sepatu kami berat seperti memikul dosa sendiri.
Hari pertama pembukaan berjalan wajar. Sambutan. Tawa. Foto bersama. Tak ada tanda badai akan datang selain mendung di langit.
Namun hari kedua…
Pagi itu sekitar pukul sepuluh, suasana berubah seperti wajah langit sebelum petir. Senior dan beberapa alumni yang tadinya ramah mendadak keras. Suara mereka meninggi. Tatapan mereka tajam.
“Baris!”
Kami terdiam.
Dibagi kelompok. Dimarahi. Dibentak.
Aku tersenyum kecil, mencoba menganggap ini biasa saja—eh, justru itu kesalahanku.
“Ngapo kau?!” bentak seorang senior.
Aku tak paham. Bahasa Bengkulu masih asing di telingaku. Aku hanya menunduk.
Tapi entah bagaimana, sikap diamku dianggap menantang.
“Anak ini nantang kita!” katanya pada yang lain.
Dan tiba-tiba aku menjadi pusat.
Dorongan. Tepukan keras. Pipi yang memerah.
Katanya bercanda. Tapi tubuh tak pernah bisa membedakan antara candaan dan luka.
Kawan-kawanku ingin menolong, tapi ketakutan menggantung di wajah mereka. Aku jadi bulan-bulanan. Hatiku seperti kates muda—dipaksa manis sebelum waktunya.
Pos pertama: merayap di lumpur, didorong, wajah kami seperti topeng tanah.
Pos kedua: mendaki bukit curam. Ragil—ketua angkatan kami—hampir menyerah. Tubuhnya berat, napasnya kasar. Kami mendorongnya dari belakang. Saat itu, solidaritas lahir bukan dari teori, tapi dari tangan yang saling menarik.
Pos ketiga… ya, di situlah harga diriku ikut diuji.
Sore hari kami mandi di air dingin pegunungan. Tubuh bersih, tapi hati masih belepotan.
Malamnya, acara makrab. Katanya malam keakraban. Tapi keakraban terasa seperti soal pilihan ganda yang jawabannya selalu salah. Kami dihukum push up berantai di tanah basah. Dingin merayap ke tulang. Lelah seperti memeluk seluruh tubuh.
Jam sebelas malam, kami “diizinkan” istirahat.
Hari ketiga, keajaiban terjadi.
Senior dan alumni kembali menjadi manusia ramah. Bahkan ada yang menepuk bahuku.
“Maaf ya, dek. Cuma skenario.”
Aku tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke hati.
Mereka berkata ini untuk melatih kekompakan. Untuk masa depan. Untuk dunia kerja. Untuk kehidupan.
Mungkin benar.
Tapi tetap saja, pelajaran paling keras hari itu bukan tentang teknik sipil—melainkan tentang batas antara pembinaan dan penindasan.
Kami pulang naik truk dalam gerimis. Tubuh panas, otot nyeri, mata lelah. Tapi di sepanjang jalan, aku menatap hutan-hutan hijau, kabut tipis, dan desa-desa sunyi.
Alam Bengkulu begitu ramah.
Manusianya juga, pada waktunya.
Hanya saja, beberapa pelajaran di tempat ini diberikan dengan cara yang terlalu kasar.
Kates biasanya manis.
Tapi pengalaman ini—pahitnya masih tertinggal di lidah ingatan.
Dan sejak hari itu aku mengerti:
Menjadi kuat bukan berarti harus menyakiti.
Dan kekompakan sejati… lahir dari empati, bukan intimidasi.





